Tanggal 1 Oktober 2014 merupakan tonggak sejarah baru reinkarnasi Orde Baru dan Dewan Playgrup Rakyat, betapa tidak ...? Belum hilang dari ingatan kita tentang "pengkarantinaan hak" masyarakat untuk memilih kepala daerahnya masing-masing dengan sistem pemilihan melalui DPRD, sekarang anda bisa melihat tontonan gratis dimana anggota dewan tidak bisa menunjukkan intelektualnya sebagai orang terhormat bahkan lebih tepat disebut sebagai preman-preman berdasi yang mementingkan dan memaksakan kehendaknya sendiri.
Mulai sejak dilantik sah menjadi anggota DPR langsung kelihatan semua belangnya, bukan lagi sebagai wakil rakyat tapi sebagai raja-raja baru yang harus diikuti semua perintah dan kemauannya.
Situasi yang lucu adanya adegan cium-ciuman ala harimau yang siap memangsa musuh-musuhnya padahal mereka seharusnya tetap satu sebagai wakil rakyat, yang mengutamakan kepentingan bangsa dan negara
Sulit untuk dipercaya senior sama junior sama saja, sama-sama ngotot , hak individu anggota tidak dihargai ketuanya juga jalan terus kalau sudah hangat di skors dan diskors, entah apa jadinya lima tahun kedepan.
Ada tatib, agenda dan aturan lainya yang mengatur jalannya sidang paripurna tapi banyak yang dilanggar demi satu tujuan "mau menang sendiri" sungguh ironis.
Yang tak kalah serunya aturan pencalonan ketua dewan ditetapkan dengan sistem paket (kayak tiki, jne aja ya?) dengan sistem paket tersebut jelas akan tercipta suatu jurang pemisah antar kubu antar partai bahkan nantinya antar anggota dewan sendiri.
Disisi lain partai pemenang pemilu harus gigit jari, Walk Out dan lepas tangan atas pengambilan keputusan di parlemen karena merasa tidak dihargai.
Namun saya pribadi berdoa dan berharap semoga dimasa mendatang terjalin kembali hubungan antar anggota yang lebih baik biarlah "Pahit dahulu manis kemudian".
No comments:
Post a Comment